Sembilan Hikmah Isra Miraj, Perjalanan Nabi Muhammad SAW ke Langit

March 11, 2021 |
20210312_010354

PitiIndonesia.com – Peristiwa Isra Miraj merupakan perjalanan semalam Nabi Muhammad SAW mendapat perintah dari Allah SWT untuk menjalankan shalat lima waktu dalam sehari semalam.

Sebenarnya Isra dan Miraj merupakan dua peristiwa berbeda. Namun karena kedua peristiwa ini terjadi pada waktu yang bersamaan maka disebutlah Isra Miraj.

Isra merupakan kisah perjalanan Nabi Muhammad dari Masjidil Haram di Mekkah ke Masjidil Aqsha di Yerussalem. Sedangkan Miraj merupakan kisah perjalanan Nabi dari bumi naik ke langit ketujuh dan dilanjutkan ke Sidratul Muntaha untuk menerima perintah Allah SWT menjalankan shalat lima waktu dalam sehari semalam.

Meski terdapat beberapa hadits dan pendapat yang menjelaskan waktu terjadinya Isra Miraj, tapi dari ayat di Al-Qur’an cukup jelas, bahwa peristiwa tersebut terjadi di malam hari.

Berikut arti dari surat Al-Isra ayat pertama:

“Maha Suci Allah yang telah memperjalankan hamba-Nya pada suatu malam dari Masjidil Haram ke Masjidil Aqsha yang telah Kami berkati sekelilingnya agar Kami perlihatkan kepadanya sebagian dari tanda-tanda (kebesaran) Kami. Sungguh Dia adalah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.”

Hal ini tentu memunculkan berbagai pertanyaan di benak, mengapa harus malam hari dan tidak siang hari. Ternyata ada beberapa hikmah tersendiri mengenai waktu Isra Miraj tersebut.

Berikut dilansir dari Kitab Imam Jalaluddin As-Suyuthi menuangkan dengan judul Ayatul Kubra fi Syarhi Qisshatil Isra.

Jalaluddin As-Suyuthi menjelaskan alasan Allah menjadikan malam sebagai waktu terjadinya peristiwa tersebut.

1. Waktu yang Tepat untuk Khalwah

Hikmah waktu Isra Miraj pada malam hari karena itu waktu yang tepat untuk melakukan khalwah (menyepi) dan pengkhususan. Hal ini dijelaskan dalam:

قال ابن المنير: إنما كان الإسراء ليلا لأنه وقت الخلوة والإختصاص عرفا

Artinya: Ibnu Munir berpendapat bahwa peristiwa Isra terjadi di malam hari, karena malam merupakan waktu yang tepat untuk menyepi serta biasanya sebagai waktu yang tepat untuk mengkhususkan amalan.

2. Waktu Wajib Sholat.
Isra Miraj pada malam hari, karena waktu malam itu diwajibkannya sholat. Hal ini didasarkan pada sebuah ayat dalam Surat Al-Muzammil ayat 2 yang artinya:
“Dirikanlah sholat di malam hari, kecuali sedikit.”

3. Ujian untuk Percaya Hal Ghaib
Hikmah Isra Miraj terjadi di malam hari berikutnya, sebagai ujian bagi para mukmin untuk percaya terhadap hal-hal ghaib. Segala hal yang susah dicerna dengan akal, serta sebagai ujian bagi orang kafir. Apakah mereka tetap ingkar dengan risalah Nabi, atau akan beriman.

4. Waktu yang Mulia

Alasan Allah SWT menjadikan peristiwa Isra Miraj berikutnya, karena malam adalah waktu yang mulia. Sebab ada beberapa peristiwa istimewa lainnya yang terjadi di waktu malam. Khususnya kisah-kisah yang terjadi dalam kehidupan para nabi sebelum Rasulullah SAW.

Di antaranya, ada kisah Nabi Ibrahim yang awalnya menganggap bintang sebagai Tuhan. Kemudian sadar bahwa bintang-bintang itu ternyata bukan Tuhan karena akan menghilang.

Hal ini tertuang dalam surat Al-An’am ayat 76 yakni

فَلَمَّا جَنَّ عَلَيْهِ اللَّيْلُ رَأَىٰ كَوْكَبًا ۖ قَالَ هَٰذَا رَبِّي ۖ فَلَمَّا أَفَلَ قَالَ لَا أُحِبُّ الْآفِلِينَ

Artinya: Ketika malam telah gelap, ia melihat sebuah bintang (lalu) ia berkata: Inilah Tuhanku, tetapi tatkala bintang itu tenggelam ia berkata: Saya tidak suka kepada yang tenggelam.

Ditambah lagi, malam menjadi waktu dikabulkannya doa Nabi Yaqub AS. Hal ini sesuai firman Allah dalam surat Yusuf ayat 98:

قَالَ سَوْفَ اَسْتَغْفِرُ لَكُمْ رَبِّيْ ۗاِنَّهٗ هُوَ الْغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ

Artinya: Dia (Yakub) berkata, “Aku akan memohonkan ampunan bagimu kepada Tuhanku. Sungguh, Dia Yang Maha Pengampun, Maha Penyayang.”

Selain dua kisah di atas, masih ada beberapa kisah lagi yang menunjukkan kemuliaan malam di kehidupan para nabi sebelumnya. Sekaligus pula sebagai bantahan untuk para filsufi, yang menganggap bahwa malam merupakan waktu yang hina. Seperti yang disampaikan oleh Ibnu Dihyah sebagai berikut:

قال ابن دحية: ولإبطال قول الفلاسفة: إن الظلمة من شأنها الإهانة والشر

Artinya: Menurut Ibnu Dihyah, terjadinya Isra pada waktu malam sebagai bantahan atas pendapatnya para filsuf yang menyatakan sesungguhnya dalam malam terdapat celaan dan keburukan.

5. Waktu Berkumpul
Alasan meletakkan peristiwa Isra Miraj di malam hari karena malam adalah waktu yang tepat untuk berkumpul dengan orang-orang yang dicintai. Oleh sebab itu, Allah SWT memberangkatkan Rasul di malam hari.

6. Waktu Terbaik yang Dijanjikan
Selanjutnya hikmah Isra Miraj ini, karena malam merupakan waktu yang disebutkan dan dijanjikan Allah sebagai waktu terbaik dari seribu bulan atau lailatul qadar. Tidak ada waktu lain, selain malam yang mempunyai keistimewaan seperti ini.

7. Waktu Turun Wahyu Pertama
Terdapat keistimewaan lain yang mendasari Isra Miraj terjadi di malam hari. Ternyata karena malam adalah waktu turunnya wahyu yang pertama:

“…Malaikat Jibril datang (ke gua hira) dan berkata: “Bacalah!” Beliau menjawab: “Aku tidak bisa baca”. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menjelaskan: Maka Malaikat itu memegangku dan memelukku sangat kuat kemudian melepaskanku dan berkata lagi: “Bacalah!” Beliau menjawab: “Aku tidak bisa baca”. Maka Malaikat itu memegangku dan memelukku sangat kuat kemudian melepaskanku dan berkata lagi: “Bacalah!”. Beliau menjawab: “Aku tidak bisa baca”. Malaikat itu memegangku kembali dan memelukku untuk ketiga kalinya dengan sangat kuat lalu melepaskanku, dan berkata lagi: (Bacalah dengan (menyebut) nama Tuhanmu yang Menciptakan, Dia Telah menciptakan manusia dari segumpal darah. Bacalah, dan Tuhanmulah yang Maha Pemurah).” (HR. Bukhari no. 6982, Muslim no. 160).

8. Waktu Dikabulkannya Doa
Malam hari dipercaya sebagai waktu yang mustajab atau tepat untuk dikabulkannya doa. Berbeda dengan siang, hanya hari Jumat yang waktu siangnya disebut memiliki keutamaan tersebut.

9. Waktu yang Baik untuk Menyegarkan Pikiran

Hikmah dan alasan peristiwa Isra Miraj di malam hari, karena ini waktu yang tepat untuk menyegarkan pikiran, dengan istirahat. Sedangkan pagi hingga siang, diciptakan Allah untuk mencari penghasilan.

Hal ini didasarkan pada firman Allah dalam surat Al-Furqan ayat 47:

وَهُوَ الَّذِي جَعَلَ لَكُمُ اللَّيْلَ لِبَاسًا وَالنَّوْمَ سُبَاتًا وَجَعَلَ النَّهَارَ نُشُورًا

Artinya: Dialah yang menjadikan untukmu malam (sebagai) pakaian, dan tidur untuk istirahat. Dia menjadikan siang untuk bangun berusaha. (mdk/ Edi Sukarno)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *