Masjid Lautze dan Tradisi Salat Tarawih Berjamaah di Malam Minggu

January 12, 2021 |
024212700_1465206216-IMG_20160606_142623

Liputan6.com, Jakarta – Di tengah deretan toko di kawasan Sawah Besar, sebuah ruko disulap jadi masjid. Meski cukup sulit membedakan antara masjid dengan wihara yang terletak berderatan di jalan Lautze, RT 10/ RW 03, Kelurahan Karang Anyar, Jakarta Pusat itu.

Masjid yang diresmikan Presiden ke 5 Republik Indonesia BJ Habibie pada tahun 1994 itu bernama Masjid Lautze. Dengan perpaduan warna kuning dan merah, lampion merah menyala dan gapura serta ukiran di langit-langitnya tampak jelas ini masjid milik warga muslim Tionghoa.

“Ramenya nggak tiap hari, Mas. Sebab ini kan yayasan, bukan kayak masjid yang biasa,” ujar warga sekitar Aditya (36) pada Liputan6.com, Senin (6/6/2016).

Menurut keterangan warga sekitar, selama Ramadan masjid ini tak menggelar salat tarawih berjamaah secara rutin. Mereka hanya salat tarawih bersama di malam Minggu. Selebihnya menyebar ke masjid dan musala terdekat.

“Kalau Sabtu malam baru ramai, atau ada acara tertentu, kayak bagi-bagi takjil,” kata Rahmadi atau Edi (45) warga yang sudah tinggal di kawasan itu sejak 1990.

Menurut Edi, jemaah Masjid Lautze adalah jemaah yang dermawan. Meski, tak serupa dengan masjid lain yang dibuka setiap waktu salat. “Bukanya dari jam 8 pagi sampai jam 5 sore, Mas. Kalau acara tertentu aja baru buka sampai malam,” terang Edi.

Selama Ramadan, menurut warga sekitar masjid ini jadi ramai diperbincangkan, kamera-kamera besar tak henti menyoroti bangunan 4 tingkat itu.

“Nggak cuma diberitain, para jemaahnya juga sering bagi-bagi takjil gratis,” kata Ramli (43) seorang pedagang furniture rumah tangga di daerah tersebut.

Saat Liputan6.com mendatangi lokasi pada jadwal salat ashar, masjid yang dimiliki Yayasan Haji Karim OEI itu terkunci semua pintunya.

“Memang gitu, Mas. Kalau mau ketemu harus janjian dulu,” ujar seorang pemilik gudang yang berada di samping Masjid Lautze.

Dari berbagai literatur, masjid yang sudah ada sejak 1990-an ini menjadi saksi ribuan warga etnis Tionghoa yang menjadi mualaf. Mereka bersyahadat di masjid yang awalnya cuma berbentuk ruko dan pada 1994 diperluas dengan ruko sebelahnya.

“Sekarang udah mulai jarang, kalau dulu mah rame Cina (etnis Tionghoa) yang masuk Islam ke sini,” ucap Edi.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *